Kamis, 03 Februari 2011

VERSI AL QURAN DAN SUNNAH TENTANG METODOLOGI PENGAJARAN

I. Pendahuluan

Pendidikan Islam tidaklah sama dengan pendidikan keagamaan sebagaimana yang berkembang sampai saat sekarang ini di negeri kita dan bahkan di kukuhkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU-PN) pada Bab IV pasal 11 ayat 6; “Merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan-penguasaan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan(UUSPN.1989.13)
Karena pendidikan keagamaan semacam itu hanya menekankan pada aspek ritual dan sacral semata, mengabaikan aspek kehidupan lainnya, artinya terpisah dari masalah social, politik, ilmiah bahkan falsafi yang dihadapi dewasa ini, yang sebenarnya juga menjadi bidang garapan pendidikan Islam. atau dengan kata lain pengertian keagamaan tersebut hanya merupakan sebahagian saja dari pelbagai aspek yang terkandung dalam pendidikan Islam. di dalam pendidikan Islam terdapat aspek piker dan zikir serta kreasi yang perpaduan dari ketiganya sangat menentukan bagi laju dan corak kemajuan peradaban manusia, serta kemakmuran dan kesejahteraan seutuhnya.
Untuk mengaplikasikan aspek-aspek tersebut diatas, sebagai usaha dalam pencapaian kemakmuran dan kesejahteraan manusia seutuhnya, perlu adanya pembinaan dan pengajaran dengan menggunakan metodologi Islami, sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.
“Maka orang-orang yang percaya kepadanya (Muhammad) dan menegakkan pendiriannya, menyampaikan pertolongan kepadanya dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan besertanya mereka ialah orang-orang yang berbahagia”.(QS.Al-A’raf : 157)
“Dan telah Kami turunkan kepada engkau peringatan, supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan”.(QS. An-Nahal : 44)
“Kitab ini yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad) supaya engkau keluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka, kepada jalan Tuhan yang gagah serta terpuji”.(QS. Ibrahim : 1).
Sesungguhnya saya manusia,apabila telah saya perintahkan kamu sekalian dengan sesuatu daripada agama kamu,maka kamu ambillah dia dan apabila saya perintahkan kamu sekalian dengan sesuatu dari pendapat pikiran saya,maka sesungguhnya saya ini tidak melainkan manusia biasa.(HR.muslim).
Dalam mengimbangi kemunculan dari berbagai metode yang dihasilkan Barat (non-muslim),tentu masyarakat islam terutama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (education) yang statusnya sebagai pengajar (lecture) perlu merujuk kembali kepada al-quran dan as-sunnh.Karena keduanya merupakan sumber dari metodologi yang berkembang dewasa ini,apakah dalam bentuk sains maupun teknologi modern,yang pasti tidak terlepas dari demensi esensialiti dan eksistemsinya.

II. Problema pengajaran

Pada prinsipnya pengajaran islam tidak boleh dilepaskan begitu saja dari formulasi ajaran islam yang tertuang dalam al-qurqn dan as-sunnah.Karena kedua sumber tersebut merupakan pedoman otentik dalam penggalian khazanah keilmuan apapun.Dengan berpijak kepada dua sumber itu diharapkan akan diperolah gambaran yang jelas tentang pengajaran islam.
Fakultas tarbiyah sebagai wahana pengembangan pendidikan dan pengajaran islam,namun dalam al-quran secara leksikologi tidak ditemukan istilah tersebut,tetapi ada istilah yang sehada dengan istilah at-tarbiyah,yaitu;ar-robb,robbayani,nurabbi,ribbiyun,robbani.Sebaliknya dalam hadis nabi dipakai istilah Robbani.Semua fonem tersebut mempunyai konotasi yang berbeda-beda.Apabila istilah at-tarbiyah di identikkan denagn bentuk madli-nya robbayani,sebagaimana yang tertera dalam suarh al isra’ ayat 24 (kama robbayani shogiro) dan bentuk mudhari’ nya nurobbi,dalam surah asy-syu’ara ayat 18 (alam nurobbika finaa waliida), at-tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memproduksi dan menjinakkan.(Naqib al-Attas, 1988.66).
Selain dari istilah at-tarbiyah,juga ada istilah lain seperti at-ta’lim (proses transmisi,pemberian pengajarandan pengenalan),at-ta’bid (pengakuan dan pengenalan secara bertahab),dan ar-riyadhoh (pelatih terhadap pribadi individu)
Begitu banyak istilah yang berkaitan dengan pengajaran,tujuan yang hendak dicapai hakikatnya istilah untuk menghadapkan individu ke jalan agama,seperti di jelaskan dalam surah ar Rum ayat 30.”Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang suci,yang merupakan “fithrah” Allah yang sesuai dengan kejadian manusia”.lalu persoalan yang muncul dari pelaksanaan pengajaran itu sendiri,yakni sejaumana proses pengajaran yang di terapkan mampu menciptakan insane “haniifa”,karena nilai insani merupakan nilai yang terpancar dari daya cipta,rasa dan karsa manusia yang tumbuh untuk memenuhi kebutuhan peradaban manusia yang memiliki sifat dinamis temporer,Justru dari keunginan demikian,maka muncul pengertian pendidikan islam,yaitu proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasaan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspek.
Di dunia Barat misalnya,mereka mensosialisasikan istilah “life long education”.Padahal dalam ajaran islam istilah tersebut sudah tertulis dalam al-quran “Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (QS.al-Hijir .99).Selanjutnya dinyatakan pula oleh Nabi dalam hadisnya “Tuntutlah ilmu itu hingga ke liang lahat”
Dengan demikian,datang berbagai pertanyaan yang menyangkut dengan metodologi pengajaran secara islami,berkisar tentang,kesesuaian metode,system pengajaran,bentuk silabus,siapa pengajar dan siapa pula yang akan diajar . . . . mau kemana (apa tujuannya)

III. Perbandingan Metodologi Pengajaran

Metode pendidikan dan pengajaran pendidikan internasional menetapkan paling tidak ada lima metode, yang disebut dengan approach/technique, yaitu:

1. Leberary material approach/tecnhnque,
2. Audivsual and mass communication approach,
3. Organizational approach,
4. Human relationchip approach,
5. Role-playing technique approach/in group case conference.(Ali Syaifullah.1983.61)

Di gunakan kata paling dalam kalimat diatas,terdapat kemungkinan sementara pendidikan atau lembaga badan pendidikan yang menggunakan atau memasukkan metode fundamental education atau community dan mass education sebagai approach dalam pendidikan atau pengajarannya.Hal sedemikian itu didasarkan atas kesejajaran tujuan yang akan dicapai dengan penggunaaan approach tersebut dengan pendidikan nasional dan dalam batas tertentu merupakan prasarana dimana diusahakan tercapainya peningkatan standard of life dari masyarakat,bangsa dan Negara yang menjadi sasaran ketiga macam approach diatas,terutama pada bangsa dan Negara yang dapat di kategorikan ke dalam”underdeveloved countries”.
Pada sejarah perkembanagnnya, metode masih sangat sederhana,pengenalannya berkisar tentang, ceramah, diskusi, home visit, mass communication media dan surve social. Dari metode-metode ini dikembangkan menjadi berbagai bentuk metode, yang maksudnya tiada lain ialah untuk memberi kemudahan dalam menerapkan pelbagai masalah dan kajian serta pengajaran.
Di literature ilmu pendidikan, khususnya ilmu pengajaran dapat ditemukan banyak metode mengajar. Namun metode mendidik, selain dari mengajar tidak terlalu banyak dibahas oleh para ahli. Sebab mungkin metode mengajar lebih jelas, tegas, objektif bahkan universal. Sedangkan metode mendidik selain mengajar lebih subjektif, kurang jelas, kurang tegas, lebih bersifat seni daripada sains.
Berbeda dengan pemahaman yang dikemukakan oleh Ahmad Tafsir tentang munculnya istilah metodologi pengajaran. Menurutnya metode pengajaran sebelum ini dikenal dengan metode umum, karena metode tersebut digunakan untuk mengajar pada umumnya.(1994.131). Ahmad Tafsir mencoba mengiringi pendekatan pembelajaran kearah metodologi Islami. Hal ini kelihatan pada penyajiannya yang mengutif pendapat Al-Nahlawi, tentang metode pengajaran, yakni:
a. Metode Hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi,
b. Metode Kisah Qurani dan Nabawi,
c. Metode Amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi
d. Metode Keteladanan,
e. Metode Pembiasaan,
f. Metode ‘Ibrah (pelajaran) dan Mau’izah (nasehat)
g. Metode Targhib (janji kesenanagan) dan Tarhib (ancaman dosa).

Metode-metode seperti ini agaknya tidak mendapat tempat bagi pemikir dan ilmuan Barat, karena terlalu kalasik atau sangat sederhana, sementara metode yang dikembangkan oleh Barat acuannya adalah eksperiment and exircise, sedangkan metode Qurani dan Nabawi menanamkan rasa iman, rasa cinta kepada al-Quran, rasa nikmatnya beribadah, rasa hormatnya kepada kedua orang tua dan sebagainya. Hal ini sangat sukar ditempuh dengan cara pendekatan emperis dan logis.
Nabi Muhammad SAW sebagai sumber dari berbagai metode pengajaran, beliaupun dalam pengembangan metode berlandaskan pada tiga prinsip, yakni:
1. Metode Dakwah, Islam tidak akan sampai ke telinga seluruh manusia, jika Rasulullah tidak menyeru mereka kepada Allah dan tidak tabah menghadapi siksaan yang dilemparkan kaum jahiliyah kepadanya,
2. Metode Tingkah laku yang mantap,
3. Metode defense (bertahan).(M.Ibrahim Syaqrah.1991.19-22).


IV. Al-Quran dan As-Sunnah Sumber Metode Pengajaran

“Dengan sebab air hujan, Allah menumbuhkan untukmu tanam-tanaman zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya dalamhal demikian itu terdapat ayat-ayat bagi mereka yang pandai berfikir. Dan Allah memberi kuasa kepadamu untuk menaklukkan siang dan malam, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu di tundukkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memahaminya.(QS. An-Nahal : 11-12).

Perhatian khusus al-Quran terhadap penggunaan akal(ratio) dan dakwahnya kepada manusia agar mereka mampu mengguna dan memanfaat potensi akal dan pikiran. Berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber metode pengajaran, Muhammad Izzah Duruzah menjelaskan bermacam-macam cara:
1. Penggalian Hikmah; seperti adanya larangan judi, meminum minuman keras dan sebagainya….(QS. Al-Maidah ; 90-91). Kemudian tentang Ka’bah dijadikan rumah suci (QS.Al-Maidah : 97),
2. Pengutaran Kisah; cara lain al-Quran mempersiapkan akal manusia untuk berfikir yaitu; mengutarakan kisah-kisah, dimana celah-celahnya diselipkan unsure yang mengandung dorongan kepada akal untuk mengutip ibarat dan pelajaran dari kisah itu (QS. Al-A’raf : 94-96)
3. Pendorong Pemikiran; Al-Quran menjelaskan dan menguraikan peristiwa-peristiwa alam, cercaan, peringatan, perintah, larangan, perundang-undangan dan pelajaran yang diketengahkan dengan maksud untuk mendorong dan membangun pemikiran.

“Apakah mereka tidak mendalami pengkajian al-Quran ?...dan andai kta al-Quran itu datanganya bukan dari Allah, pasti akan mereka dapati di dalamnya pertentangan-pertentangan banyak” (QS. An-Nisa’ : 82)

Juga dijelaskan dalam surah-surah lain, QS. Yusuf : 2, Ar-Ra’du :3, Ar-Rum ; 28 dan Shad : 29)

4. Perbandingan Baik dengan Jahat; Al-Quran juga membangun kesadaran akal dan fikiran yaitu dengan mengemukakan perbandingan antara jahat dengan baik, antara kerusakan dengan kesejahteraan dan akibat-akibatnya dunia dan akherat.

“Adakah sama orang mati yang Kami hidupkan kembali dan Kami berikan kepadanya cahaya, dengan apa dia berjalan di tengah-tengah manusia seperti dalam gelap gulita yang tidak ada baginya jalan keluar”.(QS.al-An’am : 122).
5. Pencegahan Jumud; al-Quran juga membangun akan dan fikiran yaitu dengan mencela dan mencegah sikap jumud manusia, yang dengan fanatic buta, berpegang dengan ajaran pusaka dan kepercayaan nenek moyang sekalipun fasid dan salah.

“Dan apabila dikatakan orang kepada mereka; patuhilah Kitab yang telah diturunkan Allah, lantas mereka menjawab; tidak, bahkan kami akan mengikuti ajaran peninggalan nenek moyang kami”.(QS. Al-Baqarah;170, Al-Maidah; 104, Lukman ;21, Zuhruf; 21-25).

Kemudian Muhammad Ibrahim Syaqrah, menambahakan bahawa dalam Islam juga ada metode reformasi. Menurutnya metode ini adalah metode yang paling baik yang pernah dikenal umat manusia didalam kehidupannya. Sebab metode ini adalah metode Rasulullah SAW yang diajarkan Allah SWT menyangkut semua permasalahan, termasuk tentang akidah, ibadah dan akhlak.(1990. 14). Kita harus tahu bahawa metode reformasi merupakan prinsip murni yang dijadikan landasan oleh para reformis untuk menambal cacat dan kerusakan yang melanda asas-asas dan cabang dari syari’at, akibat dari kebodohan umat Islam sendiri. Dan danfak dari penyesatan yang berusaha memisahkan jiwa dari umat Islam. atau hal ini terjadi karena tumbuhnya umat Islam di dalam lingkungan yang tidak Islami.
Ibnu Khaldun yang merupakan ilmuan muslim terkemuka juga menjabarkan strategi pengajaran, metode dan silabus yang diharapkan.(lihat dalam Muqaddimah). Kemudian muncul pemikira modern yang tulisannya tidak kalah hebat, lebih menekankan metodologi Islam kea rah reformasi, seperti Abu A’la Maududi, Hasan al-Banna, Muhammad Iqbal dan sebagainya. Pada decade ini muncul tulisan yang dipaparkan oleh Muhammad al-Bahy, dalam bukunya “al-Fikrul Islam al-Hadits wa Shirotuhu bil Isti’maril Gharbiyyi” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia
Namun suatu hal dan rialitanya, yang patut diakui oleh masyarakat Islam ialah, melemahnya tatanan agama sebagai ajaran mendasar dalam pendidikan, baik dari dimensi metode, kurikulum dan staf pengajar serta orang yang akan diajar/di didik.
Akhir-akhir ini menurut Farhat Umar; “orang sekarang masih memilah antara agama dengan pendidikan umum, padahal tidak demikian. Disamping itu pada pendidikan agama (yang konon orang banyak mengatakan sebagai pendidikan Islam) metode dan kurikulum yang digunakan masih tradional.
Ucapan yang tegas dan lantang muncul pula dari Hasan Sazdili;”Mana ada pendidikan Islam di Indonesia yang berlandaskan pada al-Quran dan al-Hadits. Pendidikan di Indonesia tidak mengacu pada pendidikan Islam, tetapi pendidikan ke Barat-baratan.(Imam Bawani.1991.215)
Walaupun kedua ilmuan diatas sedikit kelihatan pesimis dengan perkembangan dan situasi pendidikan Islam di negeri ini, namun bila kita secara bersama mengembalikan citra pendidikan Islam kepada metodologi yang diajarkan oleh al-Quran dan as-Sunnah, tentu prinsip-prinsip Islam itu dapat tumbuh kembali dengan baik, apakah di institusi umum mahupun agama. Tentu yang lebih awal di reformasikan adalah; managerial, teacher education dan text book development serta educational technology. Dengan perbaikan dimensi-dimensi tersebut, apapun yang diharapkan tentu akan tercapai dan terwujud.
:Demikianlah Kami jadikan kamu suatu ummat yang seimbang, adil dan harmonis, supaya kamu menjadi pengawas bagi manusia dan Rasul menjadi pengawas atas kamu”.(QS.Al-Baqarah. 143).

V. Penutup


Jenis metode yang dijelaskan diatas, akan lebih sempurna bila dilengkapi dengan metodologi pengajaran versi al-Quran dan Sunnah. Metode itu meliputi; metode ta’lim yaitu pengajaran, maksudnya ialah mengajar atau memberi pelajaran kepada pengetahuan dan penyelidikan.(QS. Ar-Rahman. 1-4). Metode tazkir dan tanbih, yakni pengingatan dan penyegaran kembali, seperti dijelaskan dalam al-Quran surat Az-Zariyat ayat 55.”Dan ingatkan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”.
Dengan merujuk kembali kepada al-Quran dan Sunnah, untuk memasyarakatkan kajian-kajian dengan metodologi Islami. Sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Iqbal; Islam yang mencakup prinsip gerak berjalan selaras dengan manusia yang bergerak, di dunia yang selalu berubah, karena Islam sebagai prinsip pelaksanaannya tidak tergantung kepada tempat dan generasi tertentu. \
Rialitas ini, boleh dilihat dari kesuksesan dan keberhasilan Rasulullah SAW, yang bukan hanya bisa dirasakan oleh pengikut beliau, tetapi juga dapat dirasakan dan diakui oleh sarjana-sarjana Barat. Suatu keajaiban bahawa hasil yang gemilang ini bertahan ratusan tahun dan bahkan berabad-abad hingga sekarang ini, keberhasilan dan gemilangan tersebut dicapai tanpa menggunakan banyak metode atau media komunikasi seperti zaman kini.


Referensi.
Al-Quran al-Karim dan Terjemahannya.

Al-Bahiyy, Muhammad, 1986, Al-Fikrul Islam al-Hadits wa Shiratuhu bil Isti’maril Gharbiyyi, terj. Panjimas-Jakarta.

Ahmad Tafsir, 1994, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Rosadakarya-Bandung, cet.2

Al-Attas, Naquib, M, 1998, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Mizan-Bandung

Ali Syaifullah, 1983, Pendidikan Internasional dan Adult Education, Usaha Nasional-Surabaya

Aqib Suminto, 1985, Problematika Dakwah, Panjimas-Jakarta, cet.2

Endang Saefuddin Anshari, 1993, Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran Tentang Islam dan Ummatnya, Grafindo-Jakarta, cet.4

Hasan Langgulung, 1992, Asas-Asas Pendidikan Islam, al-Husna-Jakarta, cet.2

Muhaimin dan Abd. Mujib, 1993, Pemikiran Pendidikan Islam, Trigendakarya-Bandung, cet.1

Imam Bawani dan Isa Anshari, 1991, Cendikiawan Muslim Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Bina Ilmu-Surabaya, cet. 1

Munawar Chalil, 1991, Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah, Bulan Bintang-Jakarta, cet. 7

Ramayulis, 1990, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Kalam Mulia-Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites